Harus Jalan Kaki Sejauh 8 KM, Anak SD dari Dusun Salese Terpaksa Putus Sekolah 

Tapanuli Selatan, POL | Merasa tidak sanggup karena harus jalan kaki setiap hari sejauh delapan kilometer, anak Sekolah Dasar (SD) dari dusun Salese, desa Panaungan, kecamatan Sipirok, kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), provinsi Sumatera Utara atau Sumut ke SD terdekat, yakni SD N 101224 Gadu, desa Pangaribuan sejauh delapan kilometer pergi pulang, banyak yang terpaksa putus sekolah.

Peserta didik tingkat SD di dusun Salese seharusnya naik kenderaan seperti angkutan umum atau diantar orangtua atau abang-kakak naik sepeda motor. Tetapi akibat kondisi jalan kabupaten baik dari Pasar Sipirok, ibukota kecamatan maupun antar pemukiman di Luat Harangan yang tidak layak untuk dilintasi kenderaan apa pun jenisnya, calon pemimpin bangsa dari dusun Salese itu awalnya terpaksa jalan kaki. Tetapi bulan berganti, bahkan tahun pun terus berganti akhirnya mereka menyerah dan memilih tidak sekolah lagi.

Keterangan yang dihimpun POL, Sabtu (07/11/2020) petang mengatakan, seyogyanya dari Salese, itu lebih dekat ke SD N di desa Panaungan namun hingga saat ini tidak diketahui secara pasti apa penyebabnya anak SD dari Salese justru belajarnya ke SD Negeri 101224 Gadu.

Tetapi sumber lain mengatakan, dari dusun Salese desa Panaungan, ke dusun Gadu berjarak empat kilometer dan jarak antara dusun Salese ke desa Panaungan mencapai tiga kilometer, di SDN Gadu, muridnya selalu lengkap mulai kelas I hingga kelas VI ditambah lagi tenaga pengajarnya lebih banyak dan lebih berkualitas serta SD N 101224 Gadu merupakan SD Negeri tertua di Luat Harangan.

Walau lebih jauh jarak tempuhnya dari Salese ke Gadu, tetapi karena di SDN Gadu, muridnya lengkap mulai kelas I hingga kelas VI ditambah tenaga pengajarnya lebih banyak dan kualitasnya juga lebih dipercaya sekaligus SD N 101224 Gadu merupakan SD Negeri tertua di Luat Harangan masyarakat di dusun Salese lebih mempercayakan putra-putri mereka yang usia SD dididik di SD Negeri 101224 Gadu.

Sebagaimana diketahui kondisi jalan mulai dari Gadu menuju Salese terus desa Panaungan hingga desa Pargarutan sampai sekarang masih jalan batu bahkan tidak sedikit yang masih jalan tanah dan rusak berat. Kendalanya pun masih dominan akibat kondisi jalan kabupaten yang tidak layak dilintasi kenderaan sama sekali. Selain berbentuk pendakian tajam serta badan jalan banyak berlobang, bahkan sebagian berlumpur.

Antara dusun Gadu desa Pangaribuan dengan dusun Salese, desa Panaungan melewati sungai besar, yakni Batanggilung, tetapi sudah jembatan permanen yang dimungkinkan akan bermanfaat lama bagi pengguna jalan terutama ana-anak sekolah di dua desa dan dusun bertetangga.

Artinya, solusi penuntasan problema yang dihadapi warga adalah perbaikan jalan kabupaten secara serius melalui alokasi anggaran sampai jalan itu benar-benar layak dilintasi kenderaan roda dua dan empat. Langkah ini diharapkan anak usia SD, khususnya di dusun Salese dan di Luat Harangan secara umum selamat dari persoalan putus sekolah.

Apa langkah yang dipikirkan untuk menuntaskan persoalan anak putus sekolah ini hingga sekarang masih teka-teki. Pasalnya, Kepala Desa Panaungan, Dangsir Siregar yang coba dikonfirmasi POL via chatting aplikasi WhatsApp (WA) yang dikirim Sabtu (07/11/2020) malam, hingga Minggu (08/11/2020) malam, Dangsir tidak mengirim jawaban, hanya membaca pertanyaan konfirmasi POL.

Terkait kades yang tidak mau mengirimkan konfirmasi tersebut, warga Panaungan mengatakan, bisa jadi Kades Dangsir mendapat tekanan dari pihak calon Kepala Daerah (KDH) Tapsel yang ikut bertarung pada pemilihan umum KDH, Desember mendatang. Kabar yang beredar mengatakan, para Kades di Lubuk Harangan “dipaksa” fokus untuk memenangkan calon dari pihak atasan para kades sekarang. (POL/NP.04).

 

Berikan Komentar:
Exit mobile version