Medan, POL | Etnik Batak merupakan etnik yang berbudaya dan selalu menjunjung tinggi budayanya. Pada umumnya budaya etnik itu diwariskan secara lisan, namun tidak sedikit yang diwariskan secara tertulis.
Hal itu dikatakan Ketua Program Studi Sastra Batak FIB USU Drs Jekmen Sinulingga M.Hum kepada wartawan usai melakukan pengabdian masyarakat ke sekolah “HARVARD” Medan kemarin lalu.
Menurutnya, nenek moyang etnik Batak sudah lama mengenal dan melakukan tradisi tulis. Kegiatan menulis diperkirakan sudah dilakukan sejak abad ke-18.
Adapun tulisan yang digunakan adalah berupa aksara, di mana bentuknya berbeda dengan huruf Latin. Aksara tersebut sudah digunakan oleh nenek moyang etnik Batak untuk menuliskan berbagai ilmu pengetahuan yang akan diwariskan kepada generasi selanjutnya.
Aksara itu dituliskan di atas kulit kayu (laklak), tulang hewan, bambu, batu, dan kertas. Saat ini, tulisan-tulisan berupa naskah kuno ataupun dokumen tersebut sebagian tersimpan di masyarakat dan sebagian lagi di museum.
Pada umumnya pustaha laklak berisi tentang ritual, simbol, mitos, pengobatan, penanggalan (parhalaan), porsili. Naskah ini pada umumnya ditulis oleh datu ‘dukun’.
Pada era ini kata Jekmen Sinulingga, generasi muda khususnya para pelajar sudah tidak mengenal aksara Batak ini, sehingga mereka tidak tertarik untuk melihat naskah-naskah yang ada di museum. Padahal naskah-naskah itu berisi ilmu pengetahuan yang sangat penting.
Oleh sebab itu, pembelajaran aksara ini sudah saatnya dilakukan pada tingkat sekolah dasar, menengah, maupun atas. Pembelajaran ini dapat dilakukan melalui muatan lokal sehingga upaya revitalisasi aksara dan budaya daerah ini dapat dilaksanakan.
Namun, jika sekolah tidak membuat pembelajaran bahasa daerah sebagai muatan lokal, maka solusi utama yang dapat dilakukan adalah memberi penyuluhan tentang budaya daerah kepada siswa.
Dengan demikian, siswa akan memperoleh pengetahuan tentang budaya daerah sebagai identitas etnik yang tidak boleh diabaikan. Keberlangsungan budaya etnik ini merupakan tanggung jawab dari generasi muda bangsa.
Pada Kamis 25 Mei 2023, tim pengabdian masyarakat dari Program Studi Sastra Batak FIB USU yang terdiri atas dosen, tendik, dan mahasiswa melakukan kegiatan pengabdian ke Yayasan Muham Erdillap Lalap, yaitu memberi penyuluhan tentang pentingnya pengetahuan aksara Batak bagi generasi muda agar tumbuh kecintaan dan upaya untuk terus mempertahankan keberadaan aksara Batak tersebut.
Adapun yang menjadi sasaran pengabdian ini adalah siswa SMP, SMK, dan SMA Swasta Harvard Medan yang berlokasi di Jl. Tuar Indah No. 131 Griya Martubung, Kecamatan Medan Labuhan.
Kegiatan ini dipimpin langsung Drs Jekmen Sinulingga MHum selaku Ketua Program Studi Sastra Batak FIB USU. Selain itu, dosen-dosen yang ada pada program studi ini seperti: Warisman Sinaga, Jamorlan Siahaan, Rosita Ginting, Asni Barus, Asriaty R Purba, Herlina, Ramlan Damanik, Flansius Tampubolon, Rozanna Mulyani, dan Sugihana Sembiring, turut aktif memberikan penyuluhan kepada siswa di sekolah ini.
Lebih lanjut, Jekmen Sinulingga menyampaikan bahwa tujuan kegiatan pengabdian ini dilaksanakan adalah Pertama, membekali siswa dengan pengetahuan aksara Batak (Toba) berupa induk surat sampulu sia ‘surat sembilan belas’ beserta anak surat secara manual.
Siswa harus diberi penyuluhan tentang bagaimana cara menuliskan surat Batak yang benar.
Kedua, membekali siswa dengan pengetahuan tentang penulisan aksara dengan komputerisasi atau digitalisasi dengan cara menginstal font aksara Batak ke dalam laptop atau computer mereka sehingga kapan saja mereka bisa menuliskan aksara Batak tersebut.
Selain itu, membekali siswa dengan kosa kata bahasa Batak dan memberi latihan penulisan aksara tersebut, baik secara manual maupun komputerisasi.
Menjadikan siswa sebagai mitra utama pengabdian sehingga mereka dapat berkonsultasi terkait penulisan dan penggunaan aksara Batak walaupun kegiatan pengabdian ini telah berakhir. Dan melakukan evaluasi dan memberi reward atas semua hasil kerja latihan siswa yang terkait dengan penulisan dan penggunaan aksara Batak tersebut.
Seluruh siswa yang mengikuti kegiatan ini sangat antusias, bahkan guru-guru yang ada di sekolah ini pun ikut berperan aktif sehingga penyuluhan ini berlangsung dengan tertib dan lancar. Kegiatan penyuluhan dimulai pada pukul 10.00 dan berakhir pada pukul 14.00 WIB.
Untuk memudahkan siswa memahami materi yang disampaikan, para penyuluh membagikan materi dalam bentuk buku saku kepada seluruh siswa peserta penyuluhan. Berdasarkan hasil evaluasi di lapangan, diketahui bahwa siswa sangat tertarik mengikuti kegiatan ini.
Hal ini dapat dibuktikan dengan hasil kerja mereka dari latihan yang diberikan.
Di akhir kegiatan, Kepala SMP Drs Marihot KP Sitanggang, Kepala SMA Romauli Pasaribu SPd begitu juga Kepala SMK Swasta Harvard Medan Mangoloi Nainggolan SKom sangat mengapresiasi kegiatan penyuluhan ini dan berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan pada masa mendatang, sehingga setiap siswa akan memiliki pengetahuan tentang aksara Batak.
Di pengujung acara tim dari PSB, para guru dan siswa berkenan foto bersama menambah suasana keakraban dan kekeluargaan. (JS)







