Bak kata pepatah tak ada rotan akar pun, begitu yang ada di pikiran Ny. Katrinah, 62, dari Purworejo (Jateng) ini mengatasi aspirasi “arus bawah” nya yang menggelegak. Kesepian lama ditinggal mati suami, dia “pinjam” Paeran, 40, anak mantu sendiri. Kepergok anak perempuan saat begituan dengan mantu, jawabnya enak dan enteng banget, “Pinjam suami anak kan nggak papa, wong hanya kadang-kadang ini.”
Mantu cap apapun harus hormat sama mertua, dan mertua harus sayang pada mantu-mantunya, kerena mereka pasangan dari pada anak-anaknya. Jika anak manantunya sukses, kan mertua juga ikut bangga. Sebaliknya jika menantunya jadi urusan KPK, mertua ikut malu pula dibuatnya. Akhirnya sang mertua hanya bisa mengeluh, “Ternyata punya mantu santun dan seiman bukan jaminan!”
Tapi Ny. Katrinah warga Bayan Purworejo, sayangnya pada mantu kelewatan. Soalnya Paeran menantu anak pertamanya ini, dibawa pula ke ranjang pribadinya untuk memuaskan libidonya. Si mantu pada awalnya kikuk dan kaget juga, tapi karena ini bukan maunya dia, apa lagi nolak “rejeki” itu tidak baik, akhirnya Mbah Katrinah dilotap juga. “Nuwun sewu lho Bu…..” begitu kata Paeran saat mesum perdananya bersama mertua.
Mesum perdana tanpa pulsa paketan itu terjadi karena Katrinah tak mampu menahan hasratnya sebagai janda. Sebetulnya ada sejumlah lelaki yang berminat padanya, tapi anak-anak tak mengizinkan, wong sudah tua ini, mending momong cucu. Anak-anak juga mengutip hadits Nabi yang mengatakan bawa surga balasannya bagi seorang janda yang memilih tak menikah lagi demi kasih sayang pada anak-anaknya.
Tapi batin Ny. Katrinah bilang, “Aku juga masih butuh surga dunia je……” Dan karena kebutuhannya tentang hal itu sangat mendesak, janda 3 anak itu jadi lupa akan ketuaan usianya. Alasannya biar usia sudah kepala enam tapi masih rosa-rosa kayak mbok Marijan kok.
Begitu nekatnya Katrinah, dia bukannya cari cowok panggilan sebagai gigolo, tapi justru mencari sasaran mantu sendiri. Dari ketiga mantunya, kebetulan Paeran tergolong yang paling cakep dan nampak jantan. Maka si mantu mau dijadikan tokoh alternatip. Ibarat mobil dia ini ban radial yang daya cengkeramnya hebat luar biasa. Setan pun membenarkan dengan alasan pinjam “mobil” menantu kan sudah jamaknya.
Rupanya Paeran ini juga termasuk lelaki celamitan juga. Dipancing mertua dengan gerak-gerik seronok ketika antar anak ke rumah nenek, matanya melotot juga. Meski Katrinah sudah termasuk manula, ternyata masih mantul (mantab betul) juga bodinya. Maka sebagaimana telah disebut di atas, diajak masuk kamar langsung semrintil (spontan mau) seperti anak kecil diberi es mambo.
Itulah kali pertama Paeran menggerumut mertua sendiri. Lain waktu asal situasi mantap terkendali, dia kembali ke rumah mertua untuk memuhi hasrat Katrinah yang tak pernah ogah. Dan Paeran karena masih muda, tentu saja bisa mengimbangi. Ibarat main bola, dia sudah tahu persis bagaimana menembakkan bola ke gawang lawan secara tepat guna. Bedanya adalah, usai mencetak gol Paeran tak ada yang ngerubuti dan mengelu-elukan.
Ny. Katrinah memang tinggal sendirian di rumah, karena dia masih mampu segalanya. Yang tak mampu hanya soal mengendalikan syahwat itu tadi. Karena itulah anak-anaknya secara bergantian mengunjungi sang ibu sekalian bawa oleh-oleh semisal titih (jenang jagung), atau jenang candil. Makanan khas Purworejo yang namanya geblek, Katrinah jelas tidak mampu karena gigi juga sudah bertanggalan.
Adalah anak ketiga Katrinah yang bernama Juminah, 30. Sudah seminggu dia tak menengok ibunya, sehingga belum lama ini dia merasa perlu sekali untuk sowan bersama suami. Begitu tiba, ternyata pintu depan terkunci. Karenanya mereka masuk lewat dapur. Begitu masuk kamar ibunya, ya ampuuuuun……sore itu ibunya sedang disetubuhi oleh Paeran mantu dari anak pertama.
“Mboooook, rika kuwi ngapa ta mbok (Bu, ngapain kamu)” teriak Juminah kepada ibunya. Dan yang tertangkap basah segera bangkit menyambar pakaian masing-masing. Paeran saking malunya, dengan kancing baju yang terbalik-balik langsung kabur, sementara Ny. Katrinah mencoba tenang. Istri Paeran yang merupakan anak pertama pun dipanggil lewat HP. Ketiga anak Katrinah menyidangkan ibunya yang gatelan itu selaku tersangka I, karena tersangka II melarikan diri. Namun demikian jawab Katrinah tenang saja, “Aku kan masih normal, pinjam suamimu ya hanya kadang-kadang saja. Gitu saja kok repot.”
Tak ada suami, mantu pun jadi, kayak gitu kira-kira jalan pikiran Ny Katrinah. Ini suami mbok, jangan disamakan sepeda lipat Brompton.(POL/NID)
