Kabar bahagia dan prahara dalam blantika romantika rumah tangga di dunia ini seolah tak ada habisnya. Pantas saja, orang-orang tua menyebut, tak ada yang tamat dalam berumah tangga. “Tak ada sertifikatnya, apalagi ijazah rumah tangga,” sebut orang-orang tua yang telah merasakan asam-garam dunia pernikahan dan perkawinan.
Cerita ini datang dari Tanah Datar, negeri Minangkabau, Sumatera Barat. Zulfikar (25 tahun) bolehlah disebut sosok suami yang rada koplak dan sinting. Untuk bayar hutang, dia merelakan istrinya, Halida (22), digauli tetangga berulangkali sampai lunas. Giliran diusut wali jorong (semacam Kepala Dusun), Zulfikar membawa kabur istrinya entah ke mana. Orangtuanya pun panik, lalu lapor polisi.
Anak muda sekarang banyak cari pasangan hanya berdasarkan penampilan luar. Tampang cakep, tapi tak cakap mencari uang buat keluarga. Akibatnya, secara ekonomi justru merongrong antar-besan. Tapi ada juga karena kehabisan akal bagaimana mencari nafkah, dengan tega “merentalkan’ bininya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Kata Asmuni Srimulat, “Suami cap apa model begini ini.”
Halida warga Lintau Buo Kabupaten Tanah Datar, termasuk anak daro (gadis) yang melihat cowok dari penampilan luar saja. Maka begitu melihat Zulfikar yang tampan rupawan, meski pekerjaan tidak jelas, langsung terseponah, eh (maaf) terpesona! Halida mau saja dipacari lelaki pengangguran permanen itu. Ke mana-mana mereka berjalan berdua, karena Halida bangga punya Zulfikar yang ganteng macam artis sinetron seribu episode.
Sebetulnya orangtua tak setuju putrinya pacaran dengan Zulfikar. Tapi karena anaknya kadung cinta setengah mati, maka dinikahkanlah keduanya. Padahal dalam hati orangtuanya selalu cemas, menantu model Zulfikar tak mungkin jadi wakil kapten atau bahkan jadi pemimpin dalam mahligai rumah tangga kelak!
Benar saja, baru beberapa minggu jadi suami istri, Zulfikar sudah menjelma sebagai sumando lapik buruk (menantu bikin repot) karena ekonominya harus dibantu terus. Soalnya, pekerjaan Zulfikar tidak jelas, pergi melulu tapi pulang jarang bawa uang. Padahal orang hidup kan harus makan, harus minum meski mulut setiap hari sekarang ditutup masker.
Lama kelamaan, ada juga rasa malu di hati Zulfikar karena selalu minta subsidi dari orangtua. Pikiran Zulfikar yang selama ini beku, ibarat es mulai mencair. Tapi otak cairnya bukan untuk membanting tulang bekerja, tapi mencari utangan.
Zulfikar memberanikan diri pinjam pada tetangga, namanya Fauzan (40). Jumlahnya Rp 1 juta. Tapi sampai berbulan-bulan tak mampu bayar, ketika ditagih jawabnya hanya tarsok-tarsok melulu. Ujung-ujungnya Zulfikar minta re-schedule (penjadwalan ulang) utang tersebut.
Tapi Fauzan tidak mau, sehingga akhirnya sambil bisik-bisik Zulfikar menawarkan, bagaimana kalau ‘merentalkan’ Halida istrinya untuk digauli sampai utang itu lunas.
Tentu saja Fauzan kaget, kok sampai sebegitunya, mengizinkan istrinya begituan dengan lelaki lain. Karena Zulfikar serius, dan Halida sendiri cukup cantik, akhirnya Fauzan mau jugalah.
Sebetulnya Halida tidak mau, tapi karena takut pada suami yang galak seperti anjing beranak, terpaksa mau. Bahkan kali pertama Zulfikar sendiri ikut menyaksikan dan memegangi agar Fauzan berhasil menyalurkan syahwatnya. “Ini angsuran pertama lho ya,” begitu kata Zulfikar tanpa beban dan perasaan.
Entah berapa kali Halida harus “mencicil” utang suami, tahu-tahu lunas itu pinjaman. Tapi karena pengangguran, Zulfikar kembali menjual istrinya kepada pelanggan tetapnya, Fauzan. Begitulah, asal tak punya uang Zulfikar selalu “menjual” bininya pada Fauzan yang sudah mirip-mirip dengan Datuk Maringgih.
Cilaka 12 pas! Lama-lama praktik rental merentalkan dan pinjam meminjam tak halal itu pun tercium tetangga. Dan ketika Halida kemudian hamil, temuan itu kemudian disampaikan ke wali jorong. Baik Fauzan maupun Zulfikar dipanggilnya. Ditanya anak siapa yang ada dalam kandungan Halida ini? Mengingat selama 2 tahun menikah tak punya anak, kemungkinan besar janin itu hasil kawin silang dengan Fauzan.
Keduanya pun mengaku sudah melakukan transaksi haram tersebut, dan Fauzan juga tak ingat berapa kali menggauli istri Fauzan. Sebagai sanksi, keduanya akan dikenakan hukum adat. Tapi sayang sebelum sanksi diterapkan, Zulfikar sudah membawa kabur istrinya entah kenapa.
Orangtua yang khawatir anaknya dijajakan jadi WTS, akhirnya melapor ke Polres Tanah Datar. “Zulfikar benar-benar sumando kacang miang (menantu bikin malu),” kata orangtua Halida di depan polisi. Zulfikar teman Malin Kundang, jadi menantu durhaka.(Psk/Gan)
