Tobasa, POL | Sentra Industri Tenun yang dibangun tahun 2017 di Desa Sigaol Barat Kecamatan Uluan, Kabupaten Toba Samosir dinilai sangat mubazir. Pasalnya, dari 40 unit ATBM yang ada hanya 7 unit yang digunakan.
Proyek Dinas Koperindag tahun 2017 ini menelan anggaran Rp2 M lebih. Ada 2 unit gedung yang dibangun untuk tempat pengrajin tenun, namun sangat disayangkan fasilitas yang dibangun pemerintah ini tidak digunakan sepenuhnya oleh kelompok masyarakat pengrajin tenun.
“Sebelum proyek ini dibangun, sudah lebih dahulu dilakukan pelatihan terhadap anggota pengrajin tenun dengan tujuan setelah gedung sentra industri selesai dibangun langsung bisa dimanfaatkan para anggota perajin tenun, namun sayang tidak dimanfaatkan,” kata warga setempat.
Br Siboro yang didampingi temannya sesama perajin tenun menuturkan kepada PB, Sentra Industri Tenun itu diresmikan pada bulan September 2018, untuk modal awal, mereka mendapat bantuan benang dari pemerintah melalui Dinas Koperindag Tobasa.
Menurut Br Siboro, dari 40 Unit Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) yang ada hanya 27 unit yang terpasang. “Sisanya 13 unit lagi masih tersimpan di gudang dan hanya 7 unit yang dioperasikan karena anggota yang lain kurang meminati,” katanya.
Diceritakannya, ATBM itu digunakan bukan untuk menenun ulos tapi menenun bakal pakaian, sarung dan selendang. Menurutnya, untuk menenun satu bakal pakaian butuh waktu 3 hari dan bisa dijual seharga 400-500 ribu rupiah per potong. “Sampai sekarang belum ada pengusaha yang menampung hasil kerajinan kami,” tambahnya sembari mengatakan, saat ini yang mereka tenun masih pesanan pesanan Dinas koperindag.
Tujuan sentra industri tenun dibangun di samping untuk meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar juga merupakan ikon pariwisata Danau Toba yang merupakan daerah tujuan wisata Danau Toba di Kecamatan Uluan, Kabupaten Toba Samosir.(Sogar)
