Medan, POL | Ephorus Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), Pdt Dr Viktor Tinambunan mengingatkan pemerintah untuk tegas menutup para perusahaan perusak lingkungan, terutama PT Toba Pulp Lestari (TPL).
Bencana banjir dan longsor yang terjadi di Sumatra, sebut Ephorus, hanyalah tanda-tanda awal dari kerusakan lingkungan yang sudah sangat parah.
Ephorus pun mewanti-wanti, jika terlambat mengambil sikap, siap-siap bencana besar akan menyusul.
Hal itu dikatakan Ephorus HKBP Pdt Dr Viktor Tinambunan saat konferensi pers di Sekretariat Bersama Tutup TPL di Kantor JPIC Kapusin, Jalan Mongonsidi Medan, Jumat (19/12/2025)
“Sebelumnya kami menyampaikan bahwa bencana yang terjadi ini adalah akibat ulah manusia. Kami juga menyampaikan turut berbelasungkawa kepada korban. Kemudian kami mengapresiasi kerja sama semua pihak yang telah menunjukkan solidaritas yang tinggi membantu masyarakat yang terdampak,” kata Ephorus.
Secara khusus, sambung Ephorus, pihaknya mengapresiasi Presiden Prabowo yang sudah memerintahkan Kementeriaan Kehutanan untuk mengaudit total PT TPL. Termasuk telah menutup sementara aktivitas PT TPL.
“Kita patut mengapresisasi karena pemerintah sudah memerintahkan agar TPL diaudit total dan telah menutup sementara. Tapi yang namanya evaluasi total harus dicek semua, harus secara keseluruhan dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk masyarakat,” kata Ephorus
Meski begitu, sambung Ephorus, pemerintah harus tegas. Jangan hanya menutup sementara atau hanya dievaluasi atau diaudit, tetapi harus ditutup permanen. Jika tidak ditutup, dikhawatirkan akan ada bencana yang lebih besar akan menyusul.
“Kalau dalam 4 dekade ini suara rakyat, suara pendeta, suara pastor suara aktivis tidak didengar, maka sekarang ini alam yang bersuara. Suara alam tidak bisa ditutupi. Korbannya juga sangat banyak. Dengan peristiwa ini apalagi yang mau ditunggu, apalagi lagi yang mau dibuktikan,” kata Ephorus.
Ephorus kembali menegaskan, jika pemerintah tidak menutup TPL maupun perusahaan perusak lingkungan lainnya, ke depan situasinya akan semakin sulit.
“Lahan-lahan produktif masyarakat sudah tertimbun, hunian sudah hancur, ke depan akan sangat sulit, maka sekali lagi kami minta pemerintah harus tegas tutup perusahaan TPL,” kata Ephorus.
Ketua Sekretariat Bersama Tutup TPL, Pastor Walden Sitanggang, menambahkan, masyarakat saat ini menagih janji Gubernur Bobby Nasution terkait rekomendasi tutup TPL yang konon katanya sudah dia buat dan ditandatangani.
Sekber, kata Pastor Walden, meminta Gubernur Bobby memperlihatkan surat rekomendasi tutup TPL yang katanya sudah dia tandatangani itu.
“Katanya sudah dia tandatangani. Tapi sampai saat ini kami belum pernah melihat apalagi menerimanya. Memang ada postingannya di akun media sosial beliau, tapi itu belum cukup jelas,” kata Pastor Walden.
Terkait penutupan sementara TPL, Pastor Walden menegaskan perusahaan itu harus ditutup secara permanen.
“Jika pun pemerintah pusat sudah menutup sementara, kami tetap meminta pemerintah menutup TPL secara permanen. Tidak ada tawar menawar. Alam sudah bersuara, bencana sudah terjadi dan menelan banyak korban. Jangan sampai bencana lebih besar datang,” kata Pastor Walden.
Direktur Kelompok Studi dan Pengembangan Prakarsa Masyarakat (KSPPM), Rocky Pasaribu , mengatakan, TPL tidak dapat mengelak dari keterlibatannya dalam bencana yang terjadi di Sumatra.
Selain pembukaan lahan baru, praktik pemanenan eucalyptus setiap 4–5 tahun yang dilakukan TPL memicu terbentuknya lahan terbuka yang meningkatkan kerentanan terhadap bencana ekologis.
Rocky mengatakan, 6 dari 12 kabupaten/kota yang merupakan lokasi konsesi perusahaan TPL, tercatat sebagai wilayah terdampak bencana yang paling parah
“Bencana alam yang terjadi ini adalah akumulasi dari kerusakan yang terjadi. Salah satu perusahaan yang paling bertanggungjawab adalah TPL. Tidak ada kata lain, TPL harus tutup, tegas Rocky
Konferensi pers itu juga dihadiri perwakilan berbagai elemen dan masyarakat korban TPL. Di antaranya Ketua Umum DPP Horas Bangso Batak Lamsiang Sitompul, perwakilan Aman Tano Batak, Mersi Silalahi perwakilan masyarakat adat Sihaporas dan Jenner Hutapea masyarakat Tapanuli Utara korban bencana. (MB)







