Toba, POL | Proyek Pemeliharaan Sungai Aek Mandosi Kanan Desa Patane 2 Kecamatan Porsea Kabupaten Toba Sumatera Utara Tahun 2022 sudah mulai dikerjakan.
Proyek Kementerian Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat Direktorat Sumber Daya Air Balai Wilayah Sungai Sumatera II itu menelan anggaran Rp1.040.000.000 sesuai dengan yang tertulis pada papan proyek yang ditempel pada dinding rumah.
Menurut warga setempat, proyek itu mulai dikerjakan pada Hari Rabu, 31 Agustus 2022. “Proyek ini kami usulkan ke pemerintah karena tanggul sungai ini terancam jebol apabila musim hujan,” sebut Sitorus yang datang menemui wartawan ke kantor kepala Desa Patane II, Kamis (1/9/2022).
Sangat minim informasi yang didapat terkait pemeliharaan sungai Aek Mandosi ini, sebab pihak pengawas tidak sedang di tempat, perangkat desa yang kita coba konfirmasi di kantornya mengatakan kurang mengetahui terkait kegiatan itu. “Kepala Desa sedang ada urusan ke Balige,” sebut Br. Barimbing selaku Sekretaris Desa.
Absennya pengawas di lapangan menyulitkan menyajikan informasi terkait pelaksanaan normalisasi sungai Aek Mandosi ini, namun menurut info di lapangan material batu yang digunakan dari sumber galian yang tidak resmi, sebab menurut warga setempat inisial (L. Bb) tidak ada lagi sumber batu yang resmi di daerah ini.
Pengurus LSM Katulistiwa Sumatera Utara yang turun ke lokasi, Jumat (2/9/2022), menyoroti kejanggalan pekerjaan proyek itu, mereka mempertanyakan cara kerja proyek tersebut tidak sesuai spesifikasi tehnik tentang bagai mana caranya menyusun batu dalam kawat beronjong dalam air.
Mereka mengatakan, dalam kontrak ada anggaran biaya utuk pengadaan ribuan buah kisdam untuk melokalisasi area pekerjaan tertentu sehingga dapat dikeringkan dengan menggunakan pompa air. Kalau area tidak kering bagai mana cara mereka menyusun Batu pada kawat beronjong pondasi.
Sebelumnya salah seorang pemerhati pembangunan Nimrot Sirait sangat mengagumi keahlian pemasang bronjong dalam menyusun batu di dalam air, seakan memiliki indra keenam untuk menyusun baru dengan rapi.
“Biasanya untuk menyusun batu bronjongan, air sungai harus dikeringkan agar dapat melakukan penyusunan batu yang rapi sehingga tidak terjadi abrasi dari arus air. Bila batu tidak disusun rapi akan banyak ruang masuknya hempasan arus sungai, kemungkinan terjadi abrasi, ” pungkas Nimrot. (POL/Tb 3)







