Medan, POL | Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes RI melaksanakan kegiatan Pelatihan BHD Sebagai Ketahanan Kesehatan dan Kesiapsiagaan Darurat Medis.
“Kegiatan ini merupakan yang pertama kali dilakukan,” kata Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes RI Sumarjaya.
Sumarjaya berharap pelatihan ini dapat berkelanjutan dan sosialisasi BHD dapat menjangkau masyarakat luas, terutama perusahaan, hotel, mal, dan kantor kementerian/lembaga lainnya.
Sementara itu Dedy A.Lubis,SKM Koordinator Harian Pusat Krisis Kesehatan Regional Sumut mengatakan Indonesia merupakan salah satu negara yang rawan bencana, baik itu bencana alam, non-alam, maupun sosial.
Karena itu, Pusat Krisis Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI berkomitmen menyelenggarakan pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) untuk orang awam, sebagai upaya meningkatkan ketahanan kesehatan dan kesiapsiagaan terhadap situasi darurat medis.
Hal ini di katakan Dedy pada saat acara di Kampus Imelda Medan, pada Jumat (16/8/2024).
Dedy juga berharap agar kontribusi dari setiap individu sangat diharapkan dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan.
Hal ini karena upaya pelayanan kesehatan tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan, tetapi masyarakat juga perlu memahami cara memberikan pertolongan pertama saat terjadi masalah kesehatan.
Dengan “sentuhan kecil” masyarakat diharapkan dapat menyelamatkan nyawa. “Sering kali kita lihat ketika menemukan seseorang dalam situasi gawat, orang di sekitar cenderung panik dan langsung berpikir membawa korban ke rumah sakit.
Sayangnya, tidak banyak orang yang memikirkan bagaimana agar korban selamat sebelum tiba di rumah sakit untuk mendapatkan penanganan maupun pengobatan, sehingga korban dapat lebih cepat terselamatkan,” ungkap Dedy.
Dedy menjelaskan kondisi darurat medis terbagi menjadi dua, yaitu pra-rumah sakit (pre-hospital) dan di rumah sakit (hospital). Pertolongan di rumah sakit bersifat kuratif, seperti pengobatan, perawatan, dan pemulihan. Sementara itu, pertolongan pra-rumah sakit bertujuan mempertahankan agar pasien tetap hidup saat menghadapi situasi berisiko.

Lanjutnya, pelatihan Bantuan Hidup Dasar ini dirancang untuk membekali peserta dengan pengetahuan dan keterampilan dasar yang diperlukan dalam menangani situasi darurat medis, seperti henti jantung mendadak, tersedak, atau pingsan. Para peserta dilatih oleh tenaga medis profesional yang berpengalaman dalam teknik Resusitasi Jantung Paru (RJP), penanganan saluran napas yang tersumbat, dan penggunaan Automated External Defibrillator (AED).
“Pelatihan ini juga merupakan bagian dari inisiatif berkelanjutan Pusat Krisis Kesehatan untuk memperluas jangkauan pelatihan kesehatan di seluruh Indonesia,” katanya lagi.
Dengan melibatkan semua provinsi dan bekerja sama dengan 11 Regional Pusat Krisis Kesehatan, kegiatan ini diharapkan dapat memberikan dampak positif yang luas, tidak hanya dalam konteks pelatihan individual, tetapi juga dalam meningkatkan kesiapsiagaan komunitas secara keseluruhan.
Pusat Krisis Kesehatan Regional Sumatera Utara telah melaksanakan pelatihan BHD pada 16 Agustus 2024 di Kampus Universitas Imelda Medan dengan 401 peserta yang dilatih terdiri dari Mahasiswa dan Dosen.
“Kemudian tanggal 17 Agustus 2024 dilaksanakan di Gereja HKBP Resort Simalingkar Medan dengan peserta pelatihan 100 orang,” imbuh Dedy.(Lukman)







