Medan, POL | Direktur Utama PD Pasar Kota Medan Rusdi Sinuraya menantang kaum milenial kota ini untuk dapat memanfaatkan pasar tradisional sebagai ruang kreatif dalam menuangkan ide-ide enterpreaneurnya.
“Pasar sebagai tempat transaksi jual beli antara pedagang dan konsumen, bisa juga dimanfaatkan sebagai ruang kreatif oleh kaum milenial. Kalau memang ada yang berkeinginan untuk itu, kita menyiapkan tempatnya,” kata Rusdi Sinuraya pada dialog publik yang digelar Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam (Badko HMI) Sumatera Utara Periode 2018-2020 di D’Jong Cafe Jalan Williem Iskandar, Sabtu (30/11/2019).
Rusdi Sinuraya yang maju menjadi bakal calon Wakil Wali Kota Medan pada Pilkada 2020 tampil sebagai narasumber pada dialog dengan tema ‘Menakar Potensi Figur Baru Maju di Pilkada Serentak 2020’ itu. Narasumber lainnya adalah Pengamat Politik USU Faisal Andri Mahrawa, Swangro Lumbanbatu (balon Bupati Samosir) dan Musa B Yazid sebagai moderator.
Rusdi mengatakan, tingkat okupansi pasar tradisional di Medan baru sebesar 65 persen, sehingga masih ada 35 persen lagi yang bisa dimanfaatkan kaum mileneal untuk menuangkan ide kreatifnya, terutama di malam hari.
“Salah satu pasar tradisional yang bisa dimanfaatkan kaum milineal sebagai ruang kreatif adalah Pasar Halat di Jalan Halat yang saat ini menjadi kawasan kuliner,” katanya.
Melibatkan kaum milenial, bagi Rusdi, menjadi modal penting untuk membangun Kota Medan. Salahsatunya menggerakkan anak-anak muda guna membangun jiwa kewirausahaan (interpreaneur).
Dengan begitu akan tercipta lapangan kerja baru. Tentu saja dengan memberikan mereka ruang gerak (sarana dan prasarana) yang memadai guna menelurkan ide-ide kreatif mereka.
“Jika amanah ini (memimpin Kota Medan-red) diberikan kepada saya, saya akan jemput bola seperti melakukan diskusi-diskusi dengan kaum milenial. Apalagi latar belakang saya ini kan pengusaha yang awalnya dari berdagang dan bukan dari birokrasi. Jadi prinsip kewirausahaan akan terus ditularkan kepada mereka,” katanya.
Rusdi Sinuraya juga akan mengadopsi banyak masukan dari berbagai kalangan sepanjang tujuannya untuk membangun Kota Medan ke arah yang lebih baik. Namun sasaran utama yang diprioritaskannya adalah keinginan yang kuat untuk melakukan sesuatu yang baru, yang menjadi pembeda dengan pemimpin-pemimpin Kota Medan sebelumnya.
“Ide-ide baru tentunya lebih banyak dimiliki kaum milenial. Ini akan terus kita gandeng untuk mensingkronkan dengan program-program pembangunan yang akan saya laksanakan,” katanya.
Sementara Pengamat Politik USU Faisal Andri Mahrawa memberi masukan kepada calon pemimpin Kota Medan mengapa ibu kota Provinsi Sumatera Utara ini belum bisa disejajarkan dengan Kota Bandung, Malang dan Jogja, khususnya dalam kunjungan wisata dan pembangunan infrastruktur.
“Kenapa Medan masih seperti ini? Ini karena tidak ada atmosfernya. Karena ruang kreatif untuk kaum milenial tidak ada,” kata Faisal.
Diskusi publik itu menjadi lebih berwarna karena Rusdi memberikan ruang kepada anak-anak muda untuk bertanya tentang banyak hal mengenai pembangunan Kota Medan berikut kritik maupun saran. (POL/isvan)







