Sertifikasi TOEIC Bagi Siswa SMK, Ciptakan Lulusan yang Berdaya Saing

Bandung, POL | Plh. Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Jawa Barat (Jabar), Deden Saepul Hidayat menyerahkan sertifikat asesmen TOEIC (Test of English for International Communication) kepada siswa dengan nilai tertinggi di SMKN 9 Bandung. Ia adalah Fuad Jauhari Nafis, siswa SMK Karya Guna 2 Bekasi yang mendapat nilai 985. Nafis adalah satu dari 2.800 siswa SMK di Jabar yang mengikuti program asesmen TOEIC tahun 2024.

Plh. Kadisdik pun mengapresiasi inovasi program asesmen yang berkolaborasi dengan PT Citra Global Prospexindo tersebut. Sebab, ini menunjang peningkatan sumber daya manusia, khususnya bagi lulusan SMK yang memilih untuk bekerja. “Ini adalah upaya mendekatkan proses budaya kerja dengan pembelajaran di sekolah dan membekali siswa bukan hanya dengan sertifikasi kompetensi, tapi juga (sertifikasi) bahasa,” ungkapnya.

Ia menambahkan, program ini adalah salah satu upaya untuk menyiapkan lulusan SMK yang siap kerja. “Lalu, perhatikan juga kesiapan mental anak-anak, karakter, dan soft skill juga harus disiapkan karena persaingan luar biasa di dunia kerja,” imbuhnya.

Sedangkan Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Disdik Jabar, Edy Purwanto menjelaskan, tujuan program ini adalah untuk meningkatkan kompetensi bahasa Inggris siswa SMK, memberikan sertifikasi berstandar nasional, dan mendukung daya saing siswa SMK dalam menghadapi kompetensi pasar kerja global.

“Diharapkan lulusan SMK bisa terserap (kerja) dan mampu berkompetisi di bidang bahasa. Sebab, saat ini kita juga melawan gempuran tenaga asing dari luas. Maka, anak-anak kita siapkan bukan hanya kompetensi keahliannya, tapi juga kemampuan berbahasanya,” tegasnya.

Ia menambahkan, uji kompetensi dilaksanakan pada 21-22 November 2024 di 52 tempat uji kompetensi (TUK) yang tersebar di 27 kabupaten/kota di Jabar. “SMK yang jadi TUK tidak hanya memfasilitasi siswa dari sekolahnya, tapi juga SMK negeri dan swasta di sekitarnya,” tambahnya.

Direktur PT Citra Global Prospexindo, Agie Ferdinand pun mengaku, pihaknya sangat mendukung upaya pemerintah dalam menurunkan angka pengangguran di Jabar. “Harapannya, semakin banyak kelas XII yang memiliki sertifikasi bahasa Inggris akan semakin optimal juga untuk mengurangi angka pengangguran di Jabar,” ungkapnya.

 

Program ini, tegasnya, adalah program berkelanjutan. Selain meningkatkan kompetensi siswa, pihaknya pun akan memberikan bantuan Corporate Social Responsibility (SCR) kepada 3 TUK terbaik berupa pembangunan laboratorium lab bahasa. “Fungsinya untuk menumbuhkan ekosistem di sekolah agar bisa mendorong siswa lebih aktif dan kompetitif di bidang bahasa,” tegasnya.

Kerjasama Indonesia-Jepang

Sementara itu, delegasi Pemerintah Prefektur Shizuoka Jepang datang mengunjungi SMAN 8 Bandung dan Bandung Independent School di Kota Bandung. Kunjungan tersebut dipimpin oleh Ketua Inspektur Pendidikan Prefektur Shizouka, Shigehiro Ikegami dan Presiden dan CEO Fujinokuni Infrastructure Center, Hironori Yano. Para delegasi didampingi oleh Koordinator Kehumasan Dinas Pendidikan (Disdik) Jawa Barat (Jabar), Dewi Nuraini.

Saat berkunjung ke SMAN 8 Bandung, delegasi yang berjumlah sepuluh orang tersebut melihat pembelajaran bahasa Jepang dan memberikan motivasi kepada para siswa agar berani bermimpi melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Para delegasi pun menyimak pengalaman siswa Jepang yang mengikuti pembelajaran di SMAN 8 Bandung, Mio Sakata.

Sedangkan saat menyambangi Bandung Independent School, melalui Kepala Sekolah Fujinokuni Internasional School, Daisuke Chouno, pihaknya membuka kerja sama dan kolaborasi pembelajaran sebagai sesama sekolah yang menggunakan kurikulum International Baccalaureate (IB).

Ikegami mengatakan, sejak penandatanganan MoU dengan nama resmi “Memorandum Saling Pengertian antara Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Republik Indonesia, dan Pemerintah Prefektur Shizuoka, Jepang tentang Kerja Sama di Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Ekonomi” pada 2017 silam, Provinsi Jabar dan Prefektur Shizouka telah meningkatkan pertukaran dan kerja sama di berbagai bidang. Salah satunya di bidang pendidikan.

“Beberapa siswa SMA dari Prefektur Shizouka mengunjungi Jabar atau daerah lain di Indonesia dan memperoleh pengalaman yang berharga,” ucapnya.

Pemerintah Prefektur Shizouka pun meyakini pentingnya menciptakan kesempatan bagi masyarakat agar terpapar budaya dan nilai yang berbeda saat mereka masih muda dan sensitif. Sehingga, pihaknya mempromosikan program pendidikan global untuk siswa SMA.

Salah satu siswa yang mengikuti program tersebut, Mio Sakata mengaku mendapatkan pandangan yang fresh tentang Indonesia setelah tinggal di Bandung selama beberapa bulan. Dari kacamatanya sebagai siswa SMK jurusan arsitektur, ia menilai, arsitektur di Indonesia sangat unik. “Ada peninggalan bangunan dari Belanda dan Jepang dan Indonesia mix (mencampurkan) dan develop (arsitekturnya) dari sini,” ungkapnya.

Ia pun takjub dengan hubungan erat antara masyarakat dengan agama dalam kesehariannya. “Agama masuk dalam kehidupan sehari-hari para siswa di sekolah. Saya masih banyak belajar tentang ini,” imbuhnya.

Kepala SMAN 8 Bandung, Dedi Mulyawan pun berterima kasih dan mendukung program yang akan dicanangkan oleh pemerintah Jepang tersebut. “Semoga akan ada tindak lanjut kerja sama antara sekolah dan pemerintah Jepang dalam bentuk yang lainnya,” ungkapnya.

Usai mengunjungi SMAN 8 Bandung dan Bandung Independent School, para delegasi mengunjungi Kantor Disdik Jabar. Mereka disambut oleh Plh. Kadisdik Jabar, Deden Saepul Hidayat.

Senada, Plh. Kadisdik pun mengucapkan terima kasih dan berharap kunjungan para delegasi Jepang ini bisa menghasilkan kerja sama ke depannya. “Mudah-mudahan kita bisa bekerja sama, guru-guru kami juga bisa bekerja sama dan siswa Jawa Barat bisa lebih banyak mendapatkan beasiswa untuk belajar di Jepang,” ucapnya. (Har)

Berikan Komentar:
Exit mobile version