Medan, POL | Anggota Dewan Kehormatan PWI, Asro Kamal Rokan mengatakan, wartawan harus independen dalam menyajikan berita terhadap publik, agar berita berimbang.
“Dalam kode etik, wartawan harus bersikap independen agar berita yang dihasilkan akurat sesuai fakta dan menuruti hati nurani tanpa ada intervensi dari pihak lain termasuk media sendiri,” ujar Asro saat menjadi pemateri Bimbingan Teknis Tata Kepemimpinan Jurnalis di RJ Hotel, Sabtu (27/4/2019).
Menurut Asro, agar wartawan independen maka wartawan harus menjaga jarak terhadap narasumber, sebab wartawan adalah perpanjangan lidah masyarakat. Wartawan harus mencari kebenaran. Jangan buat pembenaran atas kesalahan yang nantinya akan melanggar kode etik wartawan, jelasnya.
Lanjut Asro, dirinya menilai saat ini campur tangan pemilik media sangat terlihat apalagi yang berkaitan dengan pemberitaan Pilpres 2019. “Pemberitaan Pilpres, kelihatan campur tangan pemilik. Padahal wartawan harus independen,” ujarnya.
Disebutkannya, independensi adalah roh dari dari seorang wartawan. Apalagi di dalam kode etik jurnalis point pertama menyebut tentang independensi.
“Saat menjadi Pemimpin redaksi Koran Republika, saya yang menginisiasi membentuk forum pemimpin redaksi seluruh media nasional. Kenapa seperti itu, karena ada campur tangan pemilik media,” jelasnya.
Selain itu, ia juga mengingatkan agar wartawan untuk tetap bersikap kritis kepada kekuasaan. “Tugas utama wartawan adalah sebagai anjing menggongong untuk mengoreksi kekuasaan,” ucapnya.
Dikatakannya, Presiden SBY ketika menjabat, ia dipercaya menjadi Direktur LKBN Antara itu. Di mana ketika itu presiden ke VI berpesan meski Antara adalah media milik pemerintah, tetap harus memberitakan fakta.
“Pak SBY bilang kalau pemeritah dapat nilai 6, siarkan dan beritakan nilainya 6, bukan 5, karena itu dzholim, jangan juga katakan 9, itu sudah bohong,” katanya mengingat pesan Ketua Umum Demokrat itu.
Kejadiaan saat ini adalah bukan sekedar memberitakan pembenaran, tapi mencari pembenaran dalam sebuah kesalahan.
Sebelumnya, Ketua Umum PWI Pusat Atal Depari mengatakan, dalam membuat berita wartawan diminta profesional.
“Jiwa profesionalitas harus ada didalam diri wartawan. Membuat berita harus ada keseimbangan. Seperti kasus Sinabung. Jangan hanya dibuat berita yang ngerinya saja namun sisi lainnya tak diberitakan”, ujarnya.
Wartawan, sebutnya, harus setiap hari menulis dan berpikir serta banyak membaca agar berita yang disajikan menarik dan akurat. (POL/lin)
