Dukung Visi-Misi Bupati Nikson Nababan, Yayasan Parade Guru Apresiasi Keputusan Rapat MKKS SMP Taput

 Tarutung, POL | Yayasan Parade Guru mengapresiasi hasil keputusan rapat Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS)  SMP se Taput tentang model pembelajaran yang diterapkan di sekolah sistem Luring (Luar Jaringan)  dengan cara hand-out.

“Kita sangat mengapresiasi hasil keputusan rapat MKKS SMP Taput tersebut. Cara hand-out ini lah yang paling tepat diselenggarakan untuk menyikapi masa sukar dampak pandemi Covid-19.  Yayasan Parade Guru bersama MKKS siap mendukung terwujudnya visi -misi Bupati Taput Drs Nikson Nababan, MSi untuk menjadikan Taput sebagai lumbung SDM yang berkualitas”,ujar Ketua Yayasan Parade Guru Tapanuli Utara Martua Situmorang kepada media ini, Rabu (20/01-2021).

Sebagaimana diketahui bahwa MKKS SMP se Taput melaksanakan rapat di SMP Negeri 1 Tarutung, Sabtu (16/01/2021) yang memutuskan dilaksanakan nya sistem hand-out yang diselenggarakan di sekolah masing-masing.

Martua Situmorang yang juga mantan guru SMKN 2 Siatas Barita Taput ini menilai  bentuk hand -out sebagaimana diputuskan seluruh Kepala SMP se Taput, merupakan pilihan yang paling tepat.

“Sejak bulan April 2020 yang lalu, saya sudah mengusulkan kepada Kadis Pendidikan Taput Bontor Hutasoit agar model pembelajaran dengan cara hand- out merupakan pilihan yang paling tepat untuk diterapkan. Tapi syukur bahwa seluruh Kepala SMP se Taput lewat MKKS sangat memahami betul tentang proses belajar serta peningkatan mutu pendidikan”, ujar Martua Situmorang sembari mengatakan bahwa usul yang disampaikan kepada Kadis Diknas juga disampaikan Martua dalam setiap kunjungan kerja Tim dari Yayasan Parade Guru ke beberapa SMP di Taput tahun silam .

Martua Situmorang sejak dini telah memprediksi bahwa pembelajaran sistem Daring ( Dalam Jaringan) akan mengalami masalah.  Jaringan sering lelet, setiap anak harus memiliki hand phone android , beli paket dan pendampingan orangtua sewaktu online.

Sementara jika sistem Luring  bentuk hand- out, guru mata pelajaran  menulis materi bahan ajar.Itulah yang dicetak sekolah setiap Minggu untuk dibagikan kepada semua siswa.

Martua mengutarakan beberapa keuntungan yang didapatkan jika dilakukan secara hand -out. Keuntungan dimaksud antara lain,  tidak tergantung jaringan,pembelajaran terdokumen, bisa dibaca pagi dan siang atau malam. Setelah satu semester,semua hand out yang diterima siswa bisa dikompilasi atau dijilid menjadi seperti buku.

Martua Situmorang selaku tokoh Pendidikan ini mengusulkan, agar Kadis Pendidikan Taput membentuk tim penulis hand -out terdiri dari beberapa orang guru yang berprestasi. Menurut Martua, ada beberapa orang  asset kita  guru SMP di Taput  yang menyandang predikat guru  berprestasi  baik tingkat Kabupaten, Provinsi dan Nasional.

Dengan demikian materi bahan ajar yang ditulis oleh tim guru yang berprestasi tersebut bisa dibagikan  secara merata di setiap sekolah. Dampak positif nya, sekaligus mendorong semangat guru mata pelajaran di tingkat SMP  semakin berkualitas setelah membaca hand-out yang ditulis guru guru hebat itu.

“Terus terang ,saya kagum melihat kinerja pengurus MKKS SMP Tapanul Utara yang diketuai Torus Manuntun Nababan,MPd dan Viktor Sitorus Pane,SPd  (Sekretaris) bisa menciptakan pembelajaran yang pas di masa pandemi Covid19.Ini salah satu bentuk dukungan nyata para Kepala Sekolah untuk mewujudkan visi- misi Bupati  Nikson Nababan untuk menjadikan Tapanul Utara lumbung SDM yang berkualitas”, kata Martua berkata jujur.

Wartawan senior ini menambahkan,  model pembelajaran berbentuk hand out yang akan diterapkan di Tapanuli Utara bisa menjadi  rule- model (percontohan)  secara nasional. Jika pembelajaran secara hand -out diterapkan sejak dini ,tentu mengangkat wibawa Taput di kancah nasional,ujar Martua sedikit kesal namun merasa terobati setelah adanya keputusan rapat MKKS SMP se Taput.

Martua juga menyarankan agar Kadis Pendidikan Tapanuli Utara hendaknya membuat kebijakan yang sama di tingkat Kelas 3 hingga kelas 6 SD. Namun untuk tingkat kelas 1 dan 2, model  hand out belum waktunya mengingat  anak belum lancar membaca.Namun masih banyak pilihan model pembelajaran yang  pas untuk kelas 1 dan 2 SD, ujar Martua Situmorang. (POL/JATI).

Berikan Komentar:
Exit mobile version