Puluhan Tahun Masyarakat Luat Harangan Makan Janji Hoax Calon KDH Tapsel

Tapanuli Selatan, POL | Wow…ternyata sudah puluhan tahun atau entah sudah berapa priode kepemimpinan bupati, masyarakat kawasan Luat Harangan, atau lebih tepatnya wilayah Doloksordang dan sekitarnya, kecamatan Sipirok, kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) disuguhi janji hoax calon kepala daerah (KDH) atau bupatinya.

Pasalnya, hingga saat ini kemerdekaan Republik Indonesia (RI) sudah menginjak 75 tahun, kawasan Luat Harangan masih terisolir dan efeknya warga hidup dalam kemiskinan tanpa ada perhatian serius dari pemerintah, dalam hal ini tentunya pemerintah kabupaten Tapanuli Selatan.

“Kami sungguh prihatin dengan kenyataan hidup yang dialami masyarakat, bahwa hingga saat ini pemerintah Tapsel seolah tidak membutuhkan kawasan Luat Harangan. Kami merasa seperti bukan wilayah pemukiman masyarakat yang memiliki pemerintahan kabupaten. Masa’ sudah 75 tahun RI Merdeka, kami tidak dianggap,” kata Khairul Efendi Simamora saat memberikan keterangan via sambungan telephon, Sabtu (05/12/2020) malam.

Khairul Efendi yang saat ini merupakan Pembina Dewan Pengurus Pusat Ikatan Mahasiswa Tapanuli Selatan (DPP IMA Tapsel) lebih jauh mengatakan, memilih pemimpin itu hakekatnya adalah yang betul-betul sesuai hati nurani, dipercaya akan mampu membawa perubahan ke arah yang sebaik-baiknya. Pilihlah pemimpin itu bukan karena uangnya dan janji yang kemudian ternyata hoax.

Menurut Sekretaris Jenderal DPP IMA Tapsel tahun 2013 itu, semua orang pintar membuat dan menjual janji tetapi tidak semua orang mau menepati dan memenuhi janjinya. Janji calon KDH atau pemimpin itu warnanya politik, apa itu politik, tentunya ini yang perlu difahami masyarakat. Bahwa janji politik itu dominan pembodohan, atau hanya siasat agar yang berjanji dipilih masyarakat.

“Luat Harangan berpenduduk lebih dari tiga ribu jiwa, diperkirakan yang ikut terdaftar sebagai pemilih, itu mungkin sudah mencapai 2.500 jiwa lebih, setidaknya sejak tahun 1970-an sudah mengharapkan perhatian dari pemerintah, bahwa infrastruktur jalan kabupaten menuju kawasan Lubuk Harangan seharusnya menjadi skala prioritas. Tetapi kenyataannya hingga 75 tahun RI merdeka saat ini wilayah Doloksordang dan sekitarnya itu masih saja terisolir,” katanya.

Dari catatan yang ada dan diperoleh dari para tokoh masyarakat Luat Harangan, ada disebutkan bahwa bupati hasil pemilihan Bupati/Wakil Bupati 12 Mei 2010 saat pencalonan berjanji kepada masyarakat Luat Harangan, akan membangun jalan kabupaten antar desa di kawasan itu, terlebih-lebih dari simpang jalan jurusan Bunga Bondar hingga desa Doloksordang dan sekitarnya.

Ternyata janji tersebut membuahkan hasil yang sangat membanggakan sang pengucap janji, yang dibuktikan dengan terpilihnya yang bersangkutan menjadi bupati masa bhakti 2010 -2015. Tetapi apa kabar dengan janji sang calon bupati yang akhirnya terpilih itu ? Ternyata janji tersebut hanya impian kosong masyarakat yang berkepanjangan.

Pada pencalonan untuk meraih priode kedua yakni masa bhakti 2015 – 2020, sang incambent kembali melancarkan janjinya kepada 2000-an jiwa lebih warga kawasan Luat Harangan, apa dikata, warga sudah keburu tahu, itu adalah janji hoax dan palsu. Kalaupun masih terpilih, itu hanya segelintir orang, mungkin hanya para kepala desa yang diduga takut dipecat bupati sehingga terpaksa harus memilih pengumbar janji hoax.

Keadaan itu mungkin yang membuat warga Luat Harangan seperti “berang” dan akan memboikot atau tidak memilih kandidat calon KDH yang merupakan titipan orang nomor wahid di kabupaten Tapsel saat sekarang ini.

“Warga Luat Harangan sebaiknya fokus terhadap usaha di pertanian sebagaimana biasa pada hari H pemilu KDH 9 Desember 2020 mendatang. Sudah berapa kali pemilu KDH Tapsel, warga selalu tertipu oleh calon bupati bermulut besar,” kata Khairul Efendi mengakhiri pendapatnya. (POL/NP.04)

Berikan Komentar:
Exit mobile version