Padangsidempuan, POL | Plt.Kepala Dinas Pertanian Kota Padangsidempuan Edi Darwan sangat menyesalkan adanya informasi ataupun pemberitaan mass media yang mengatakan Kota Padangsidempuan salah satu daerah di Tapanuli bagian selatan (Tabagsel) tertinggi hewan ternak terjangkit Penyakit Mulut dan Kaki (PMK).
“Itu tidak benar !, apalagi data yang keluarkan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertenakan Propinsi menyebutkan sebanyak 73 ekor hewan ternak di Padangsidempuan diduga terjangkit PMK,” ujar Edi pada di kantornya, Jumat (17/6/2022).
Kata Edi, penanganan pertama setelah rapat di kantor Gubsu tentang merebaknya PMK di Indonesia, secara khusus di Sumatera Utara, dimana Aceh telah ditemukan penyakit PMK dan dikhawatirkan akan menular ke Sumut yang merupakan daerah tetangga.
Usai rapat di kantor Gubsu dilakukan pendataan di Kota Padangsidempuan dengan petugas yang sangat minim hanya memiliki dua dokter hewan, maka diberdayakan para petugas penyuluh lapangan hingga ditemukanlah kasus pertama hewan ternak terindikasi gejala PMK di Desa Bargot Topong Kecamatan Padangsidempuan Batu Nadua sebanyak satu ekor.
Dengan ditemukannya kasus tersebut Tim dinas Pertanian Padangsidempua langsung ke TKP bersama petugas dokter hewan melakukan penanganan. Agar tidak melebar luas seluruh petugas diperintahkan untuk mendata seluruh peternak yang ada di Padangsidempuan.
“Dari data tersebut pada akhir mei lalu kita temukan di daerah Pijor Koling Kecamatan Padangsidempuan Tenggara hewan ternak terindikasi tapi belum PMK dan langsung ditangani sesuai rekomendasi dari dokter hewan,” kata Edi.
Ia menambahkan, dengan adanya indikasi PMK di Kota Padangsidempuan, kembali diundang seluruh peternak, penyuluh dan kamtibmas untuk menentukan apa langkah awal yang dilakukan bila terjadi PMK di Padangsidempuan.
“Kita juga sudah menyurati Dinas Pertenakan Propinsi tentang adanya PMK di Padangsidempuan dan pada tanggal 3 juni kita terjun ke lapangan melakukan pegecekan hewan ternak dan hasilnya dilaporkan ke Propinsi Sumut, namun hingga kini hasilnya belum kita terima,” ujar Edi.
Walaupun masih terindikasi, pihaknya terus melakukan pengawasan serta penyuntikan pada hewan ternak serta isolasi yang mana selama ini para peternak mengangon ternaknya dikeluarkan kini tidak boleh lagi harus dirumput. Begitu juga obat-obatan terus dikasih plus pemberian jamu yang diracik sendiri oleh tenaga kesehatan untuk meningkatkan imun hewan tersebut.
Inilah yang laporkan ke propinsi, bukan mati tapi terindikasi dan hasil laboratorium dari propinsi hingga kini belum diterima. “Setelah kita tangani dan pantau pada tanggal (10/6) lalu hasil 50% sehat, ternak dengan ciri-ciri terindikasi PMK sudah tidak ditemukan, bahkan pada tanggal 16 Juni dari hasil yang kita lakukan pengecekan dari 61 hewan ternak yang terindikasi tertular sekarang sudah sehat”, ujar Edi.
Langkah ke depan akan dilakukan 23 Juni 2022 mendatang, terlebih lagi menjelang hari Raya Idul Adha 1443 H yang sudah diambang pintu akan diundang seluruh panitia Qurban yang ada di kota ini,agar jangan ada kekwatiran tentang adanya hewan terjangkit PMK di Padangsidempuan.
“Adanya Indikasi, dan informasi selama ini bahwa hewan ternak di Padangsidempuan tidak benar, sebab hingga saat ini hewan ternak mati akibat PMK belum ada ditemukan, kita juga menyayangkan pemberitaan yang mengatakan Padangsidempuan peringkat pertama di Tabagsel hewan terjangkit PMK, terlebih lagi yang memberitakan tidak ada melakukan koffirmasi,” ujar Edi. (POL/NP.02)
