Nahum Situmorang yang lahir di Sipirok 113 tahun lalu, tepatnya tanggal14 Pebruari 1908, ternyata bersamaan dengan hari Valentine ( hari kasih sayang). Ketua Ikatan Keluarga Pewaris Komponis Nahum Situmorang ( IKPKNS) Erwin Situmorang,SE,MBA adalah cucu Manase Situmorang, abang kandung Nahum Situmorang, telah menjalin komunikasi dengan penulis tentang kisah Nahum Situmorang.
Sebelum join zoom meeting dilakukan Sabtu 13 Pebruari 2021 yang bertajuk ” Mengenang Mastreo Komponis Nahum Situmorang” inilah yang saya turunkan dalam catatan ringan,selain keterangan Erwin, saya juga menghubungi Djohar Situmorang di Parbubu, Tarutung dan Martha Situmorang di Sipoholon Tapanuli Utara, keduanya adalah putra dan putri Guru Panangian Situmorang ( adek bungsu Nahum Situmorang).Yang belum terjawab sampai sekarang adalah komponis besar ini tidak kawin hingga meninggal dalam usia 61 tahun.
Martha br Situmorang yang semasa Nahum sakit di Medan, dialah yang menjaga dan banyak mengetahui tentang kisah Nahum.Dialah yang bisa membuka misteri itu.Martha memberitahukan siapa dan kepada marga apa pacarnya menikah, namun dia tidak mengijinkan penulis untuk membuka misteri itu dalam tulisan ini, tetapi boru Lumbantobing yang berparas cantik.Dialah membuat Nahum Situmorang patah hati dan tidak menikah.
Tetapi anak Guru Sopar Situmorang, Ir Posma Situmorang menyebutkan, Nahum Situmorang patah hati kepada seorang gadis Minang yang meninggal karena tabrakan di kota Medan.Ketika Nahum mengetahui kabar , bahwa kekasihnya kecelakaan dan telah meninggal.Nahum frustrasi, gitar dan biola miliknya dihancurkan dan berjanji tidak akan menikah hingga meninggal.
Kedua versi ini, hanya Nahum Situmorang yang mengetahui dan cintanya dia balut hingga ke liang kubur.
Nahum Situmorang adalah anak ke 5 dari 8 bersaudara :
1.Kasianus Situmorang
2.Rene Br Situmorang
3.Manase Situmorang
4.Guru Sopar Situmorang
5.Guru Nahum Situmorang
6.Guru Tua Doli Situmorang
7.Oloan Situmorang
8.Guru Panangian Situmorang
Sebelum menjadi penyanyi dan pencipta lagu, ternyata Nahum Situmorang yang lulus tahun 1928 dari sekolah guru Kweekschool di Lembang Bandung, memulai kariernya menjadi guru di sekolah partekelir Bataksche Studiefonds Sibolga hingga tahun 1932.Kemudian tahun 1932 Nahum pindah ke Tarutung bergabung dengan abangnya Guru Sopar Situmorang mendirikan HIS Partekelir Instituut Voor Waaters Lager Onderwijs hingga kedatangan Jepang tahun 1942.
Kemudian Nahum Situmorang membuka restoran di Tarutung dan menjadi pemusik Jepang Sendenhan Hondohan , usahanya ini hanya sampai tahun 1945.Kemudian dia menjadi pedagang permata dan emas, tetapi Nahum telah berkarya menciptakan lagu lagu perjuangan, itupun hanya bertahan sampai tahun 1949.
Nahum Situmorang pindah ke Medan dan menjadi broker mobil , namun kariernya sebagai penyanyi dan pencipta lagu tetap digeluti.
Semasa di Medan, ia lebih banyak menciptakan lagu di pakter tuak dan Nahum membentuk group “Irama Solu Bolon” di Medan,di masa itu Irama Solu Bolon yang dipimpinnya mengisi acara siaran langsung di RRI Medan dan pendengarnya sampai ke pelosok desa di Sumatera Utara.
Nahum Situmorang produktif menyanyi dan mencipta lagu tahun 1950- 1960. Sebanyak 125 lagu dilengkapi dengan syair dan liriknya.
Kini lagu ciptaannya banyak yang abadi dan tidak hilang ditelan zaman.Hampir semua penyanyi trio atau solo Batak sampai saat ini, selalu menyanyikan lagu ciptaan Nahum Situmorang.
Martha menyebutkan, bahwa lagu ciptaan Nahum Situmorang banyak diilhami perjalanan hidupnya.
” Sapata ni si Doli”,lagu ini diciptakan untuk melukiskan kekesalannya tentang gadis yang dia cintai.
” Parombus ombus do”, ketika ia berangkat ke Medan dari Tarutung,Nahum melihat penjual ombus ombus (penganan sejenis lappet) dilhatnya di kota Siborong borong, maka lagu untuk itu diciptakan.
Sebagai kelahiran Sipirok, ia juga menciptakan lagu “Sitogol” .
Nahum juga menciptakan lagu tentang” Rura Silindung Nauli”,ketika dia duduk di halaman rumah dan merasakan sejuk dan indahnya Rura Silindung.
Demikian juga lagu “Nahinali Bakkudu”,ketika ia mengalami kekecewaan dari seorang gadis yang dicintainya dan lagu ini menangisi dirinya.
“Dijou Do Au Mulak Inang Tu Rura Silindung ”
lagu ini dia ciptakan di Medan, ketika ibunya sedang sakit di Tarutung dan Nahum dipanggil pulang.Inilah dasar dasar sebagian judul lagu yang benar benar diketahui Martha br Situmorang.
Pahlawan Nasional
Nahum telah memperoleh segudang piagam seni dan yang terakhir Nahum memperoleh Anugerah Seni dari Pemerintah Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1969.
Saat itu Nahum Situmorang sudah sakit dan dirawat sejak tahun 1966 di Rumah Sakit Umum Pusat ( RSUP) Medan yang sekarang menjadi Rumah Sakit Pirngadi,karena mengalami stroke berat.
Dan tanggal 20 Oktober 1969, Nahum Situmorang menghembuskan nafas yang terakhir dan dikebumikan di Pekuburan Umum Kristen Jalan Gajah Mada Medan.
Makam Nahum sangat sering dikunjungi penyanyi Batak di Kota Medan,terutama di hari Kebangkitan Tuhan Yesus.
Semua narasumber dalam acara joint zoom meeting bertajuk ” Mastreo Komponis Nahum Situmorang” sepakat dan akan ikut berupaya dalam rangka pengusulan Nahum Situmorang menjadi Pahlawan Nasional.
Irjen Pol ( Pur) Erwin Lumbantobing menganjurkan, sebelum diusulkan, hendaknya disusun dulu semua lagu karangan Nahum yang bisa di pertanggung jawabkan, sehingga tidak ada memasukkan lagu ciptaan S.Dis Sitompul, Tilhang Gultom dan komponis Batak lainnya.
Pekerjaan besar ini bukan hanya pekerjaan pewaris, tetapi semua suku Batak harus terlibat didalamnya, ujar Erwin Lumbantobing.
Banyak gerakan yang bisa dilakukan untuk membesarkan nama komponis besar ini, misalnya mengabadikan nama jalan di kota Medan dan di seluruh kabupaten/ kota di Sumatera Utara.Aula di kantor kantor pemerintah dan gereja perlu dibuat nama Nahum Situmorang.Rencana membuat patung Nahum dan memindahkan tulang belulang Nahum Situmorang dari pekuburan umum Jalan Gajah Mada .Mangara Tua Bakkara yang juga pernah menjadi anggota group penyanyi Batak di Medan bersaksi,bahwa Nahum Situmorang adalah penyanyi dan komponis besar.Dulu kami hampir tiap Minggu menyanyi di RRI Medan yang disiarkan langsung dan bisa didengar hingga pelosok Sumatera Utara.
Group Nahum melakukan siaran langsung pukul 12.00 WIB dan kami pukul 13.00 WIB, ujar Bakkara yang sudah nampak uzur, tetapi masih bisa menyanyikan sejumlah lagu lagu ciptaan Nahum,meski hanya sepenggal sepenggal di acara tersebut.
Semangat para tokoh Batak ini untuk mengangkat nama Nahum Situmorang, kiranya tidak berhenti sampai di sini.Erwin Lumbantobing mengatakan bahwa peranan Pemerintah Kabupaten (Pemkab)Tapanuli Utara sebagai Bona Pasogit Nahum Situmorang sangat dibutuhkan.
Jika sudah terpenuhi persyaratan yang dibutuhkan,yang paling pas mengusulkan ini adalah Bupati cepat Utara dan Gubernur Sumatera Utara ke Menteri Sosial. Semoga !
