Toba, POL | Merasa kecewa atas kerusakan jalan yang tak kunjung diperbaiki, sejumlah warga tanam pisang di jalan Siguragura Kecanatan Porsea Kabupaten Toba.
Aksi tanan pisang tersebut tepatnya di Desa Simpang Siguragura Kecamatan Porsea sekitar 100 M dari jalinsum Balige Parapat menuju Sosor Ladang Kecamatan Parmaksian, Senin (9/11/2020).
Menurut warga setempat setidaknya ada 200 truk pengangkut bahan baku TPL menuju pabrik di Sosor Ladang Kecamatan Parmaksian setiap harinya, jalan ini adalah satu satunya akses ke pabrik TPL sebut Martin Manurung.
Warga setempat menambahkan, kerusakan jalan tersebut diakibatkan truk truk over tonase yang membawa kayu bahan baku pabrik tpl dan pulp keluar dari pabrik.
Warga tersebut menceritakan, sebelum ada PT.Indorayon/TPL , jalan ini sangat bagus tidak pernah ada lobang ,ada perawatan rutin yang dilakukan PT. INALUM setiap tahunnya namun setelah kehadiran pabrik pemangsa kayu tersebut jalan ini tidak ditangani Inalum lagi sebutnya.
Dari Desa Simpang Siguragura sampai Tangga Batu sepanjang sekitar 6 KM kondisi jalan sudah dipenuhi lobang, para pengguna jalan sangat terganggu , apalagi musim hujan kondisi jalan sangat mengganggu kenyamanan pengguna jalan sebutnya.
Firman Sinaga selaku Ketua Gerakan Tuntut Akta 54 (GTA 54), kepada sejumlah media mengatakan, sejak beroperasi PT.IIU/ TPL ,jalan ini tidak pernah lagi bagus, kondisinya berlobang lobang dan penuh tambal sulam, apabila musim kemarau warga sekitar makan abu dan pada musim hujan sejumlah titik seperti kubangan kerbau sebutnya.
Humas TPL Tbk,Juliandri Hutabarat ketika diminta tanggapannya terkait warga Desa Simpang Siguragura menanam pisang di jalan yang setiap hari dilalui truk truk TPL belum memberikan tanggapan, Juliandri memilih no coment.
Kadis Perhubungan Kabupaten Toba, Tito Siahaan ketika dikonfirmasi melalui telepon genggamnya mengatakan sangat prihatin melihat kondisi jalan tersebut. Tito menambahkan ada kendala yang dihadapi instansinya dalam melakukan tindakan terhadap angkutan yang melebihi tonase.
Untuk melakukan razia di lapangan, instansi yang dipimpinnya tidak bisa berdiri sendiri harus melibatkan pihak kepolisian sebutnya. “Sementara anggaran untuk melakukan razia tidak ada lagi sebab dialihkan untuk penanganan Virus Corona-19,” tutup Tito. (POL/tb)







