BAHASA merupakan sistem lambang bunyi ujaran yang digunakan oleh anggota masyarakat untuk berkomunikasi, berinteraksi, dan bekerja sama. Bahasa yang baik berkembang dengan suatu sistem yang memiliki aturan dan harus dipatuhi oleh pemakainya.
Penggunaan bahasa sebagai sistem lambang bunyi yang arbitrer digunakan untuk menyampaikan pikiran dan gagasan untuk mengomunikasikan suatu makna. Penggunaan bahasa juga berhubungan dengan semiotika, yaitu ilmu tentang tanda-tanda.
Semotika adalah cabang ilmu yang berurusan dengan pengkajian tanda dan segala sesuatnya, seperti sistem tanda dan proses yang berlaku bagi penggunaan tanda. Tanda berkaitan dengan ikon, indeks, dan simbol.
Tanda dapat dikatakan ikon apabila mirip dengan sumber acuan secara wujud visual dan memiliki fungsi sebagai penanda yang serupa dengan objeknya. Tanda dikatakan indeks apabila memiliki hubungan sebab- akibat. Tanda dikatakan simbol apabila sumber acuannya bersifat konvensional (kesepakatan), seperti tanda-tanda yang terdapat dalam kain ulos Batak Toba.
Kain ulos Batak Toba merupakan kain yang menyerupai selendang yang digunakan oleh orang Batak untuk berbagai tradisi. Ulos adalah kain yang ditenun oleh perempuan Batak dengan berbagai pola dan dijual.
Menurut tokoh adat bahwa Ulos adalah selendang tenun Batak, biasanya dipakai dalam upacara adat (pernikahan, memasuki rumah, kematian dan sebagainya). Jadi, pengertian kain Ulos adalah barang hasil tenunan yang terbuat dari kain yang digunakan untuk pakaian atau kegunaan lainnya dan memiliki motif yang berbeda-beda.
Sedangkan kain Ulos Batak Toba berbeda dengan kain Ulos Batak lainnya. Perbedaan itu terlihat pada jenis Ulos dan fungsi Ulos tersebut. Sebagai salah satu hasil karya seni masyarakat Batak Toba, kain ulos memiliki nilai estetika dan menjadi suatu simbol bagi masyarakat suku Batak dalam menjalankan tradisi maupun ritual Batak.
Hasil karya itu juga memiliki makna sosial dan nilai kultur yang tinggi, karena kain Ulos memiliki motif yang khas yang sesuai dengan kehidupan masyarakat Batak.
Teoritis
Ulos dikenal sebagai kain dari suku di Sumatera Utara yakni Batak. Kain ini kerap digunakan pada upacara adat dan pejabat atau yang datang ke daerah. Ulos Batak selalu disampaikan (diberikan sebagai cenderamata), seperti di Kabupaten Tapanuli Utara yang masih memegang teguh prinsip Batak adat Dalihan Na Tolu. Tapanuli Utara dikenal dengan daerah menghormati pejabat yang datang.
Pada awalnya, kain Ulos digunakan sebagai pakaian sehari-hari masyarakat Batak. Selain dipakai untuk pengganti baju maupun sarung, Ulos juga dipakai sebagai penutup kepala, hingga selendang.
Kain Ulos juga digunakan gendongan bayi, topi, tas, pakaian resmi, penghangat tubuh atau selimut dan kain untuk berbagai tradisi Batak. Sedangkan nilai kain Ulos pada masa dahulu sampai sekarang tidak mengalami perubahan, melainkan telah menjadi sesuatu yang sakral digunakan dalam upacara adat Batak Toba, sehingga hal ini menunjukkan bahwa Ulos memiliki makna yang terkandung di dalamnya.

Berbagai motif pada kain Ulos menggambarkan sebuah arti yang berbeda, tergantung pada jenis Ulos dan hubungannya dengan kehidupan masyarakat Batak yang beranggapan bahwa makna tanda-tanda dari kain Ulos sesungguhnya memiliki arti dan nilai yang baik sebab fungsinya tidak menyimpang. Itulah pengertian Ulos!
Jenis-jenis Ulos, Manfaat dan Kegunaannya:
1. Ulos Antakantak
Ulos ini dipakai sebagai selendang orang untuk melayat orang yang meninggal. Selain itu, Ulos tersebut dipakai pada waktu menari (manortor).
2. Ulos Bintang Maratur
Ulos ini merupakan Ulos yang paling banyak kegunaannya di dalam acara adat Batak Toba. Ulos Bolean, ini biasanya dipakai sebagai selendang pada acara-acara kedukaan.
3. Ulos Mangiring
Ulos Mangiring dipakai sebagai selendang, talitali, juga Ulos ini diberikan kepada anak-cucu yang baru lahir, terutama anak pertama.
4. Padang Ursa dan Ulos Pinan Lobulobu
Padang Ursa dan Ulos Pinan Lobulobu dipakai sebagai talitali dan selendang.
5. Ulos Pinuncaan
Ulos ini terdiri dari lima bagian yang ditenun secara terpisah yang kemudian disatukan dengan rapi hingga menjadi satu Ulos.
6. Ulos Ragi Hotang
Jenis Ulos ini diberikan kepada sepasang pengantin yang sedang melaksanakan pesta adat penikahan.
7. Ulos Sibolang Rasta Pamontari
Ulos ini dipakai untuk keperluan duka dan sukacita.
8. Ulos Ragi Huting
Ulos ini sekarang sudah jarang dipakai. Konon, pada zaman dulu sebelum Indonesia merdeka, anak perempuan (gadis-gadis) memakai Ulos Ragi Huting ini sebagai pakaian sehari-hari yang dililitkan di dada (Hobahoba) yang menunjukkan bahwa yang bersangkutan adalah seorang putri (gadis perawan) Batak Toba yang beradat.
9. Ulos Si Bunga Umbasang dan Ulos Simpar
Secara umum, Ulos jenis ini hanya berfungsi dan dipakai sebagai selendang bagi para ibu sewaktu mengikuti pelaksanaan segala jenis acara adat-istiadat yang kehadirannya sebatas undangan biasa yang disebut sebagai panoropi (yang meramaikan).
10. Ulos Sitolu Tuho
Ulos ini difungsikan atau dipakai sebagai ikat kepala atau selendang.
11. Ulos Surisuri Ganjang
Ulos ini dipakai sebagai handehande (selendang) pada waktu margondang (menari dengan alunanan musik Batak) dan juga dipergunakan oleh pihak hulahula (orang tua dari pihak istri atau raja) untuk manggabei (memberikan berkat) kepada pihak borunya (keturunannya). Karena itulah disebut juga Ulos Gabegabe (berkat).
12. Ulos Simarinjam Sisi
Ulos jenis ini dipakai dan difungsikan sebagai kain dan juga dilengkapi dengan Ulos Pinunca yang disandang dengan perlengkapan adat Batak sebagai panjoloani (mendahului di depan). Yang memakai ulos ini adalah satu orang yang berada paling depan.
13. Ulos Ragi Pakko dan Ulos Harangan
Pada zaman dahulu dipakai sebagai selimut bagi keluarga yang berasal dari golongan keluarga bangsawan dan kaya rata. Dan itu jugalah apabila nanti setelah tua dan meninggal akan disaput (diselimutkan, dibentangkan kepada jasad) dengan Ulos yang pakai ragi ditambah Ulos lainnya yang disebut Ragi Pakko karena memang warnanya hitam seperti pakko (batang enau).
14. Ulos Tumtuman
Ulos jenis ini dipakai sebagai talitali yang bermotif dan dipakai oleh anak yang menunjukkan bahwa yang bersangkutan adalah anak pertama dari hasuhutan (tuan rumah) dalam sebuah gelaran adat.
15. Ulos Tuturtutur
Ulos ini dipakai sebagai talitali (ikat kepala) dan sebagai handehande (selendang) yang diberikan oleh orang tua kepada anak-anaknya (keturunannya).
Tujuan Umum
Tujuan umum pemakaian ulos sifatnya general dan cakupannya tentang sangat luas. Demikian juga hal dengan pengetahuan tentang Ulos Batak sangatlah beragam. Beragam pengetahuan telah coba dikembangkan untuk mengembangkan Ulos Batak di Indonesia bahkan sampai ke tingkat dunia internasional.
Seperti yang dilakukan Ketua Dekranasda Taput Satika Simamora SE MM dalam memajukan Ulos di Kabupaten Tapanuli Utara dengan memberikan bahan tenun Ulos berupa benang dan melaksanakan pelatihan-pelatihan bagi petenun Ulos, sehingga Ulos Taput sudah sampai ke Jerman dan Australia. Perwakilan kedua negara ini sudah bertemu dengan Ketua Dekranasda Satika Simamora SE MM di Kantor Dekranasda di Tarutung.
Ketua Dekranasda Taput Satika Simamora selalu memperkenalkan berbagai produk hasil binaan Dekranasda jika para pejabat tingkat Sumatera Utara, Tingkat Pusat baik dari luar Sumut berkunjung ke Taput. Para tamu itu pun berdecak kagum dan memuji kreativitas Dekranasda Tapanuli Utara, serta tak lupa untuk berbelanja ke beberapa produk lokal Tapanuli Utara yang secara otomatis akan meningkatkan pendapatan para petenun ulos, penjual ulos baik secara perorangan maupun yang terhimpun dalam Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang ada di Kabupaten Tapanuli Utara.
Ulos yang dulunya hanya dipakai ketika acara adat, kini penggunaannya semakin berkembang bahkan menjadi fashion sehari-hari di berbagai lapisan masyarakat. Seiring dengan pelatihan dan berbagai kegiatan yang terus giat digencarkan Pemkab Taput, Ulos bahkan telah menjelma menjadi salah satu oleh-oleh (buah tangan) dari Kabupaten Tapanuli Utara selain Kacang Sihobuk yang dikenal gurih dan garing.
“Luar biasa hasil kreativitas Dekranasda yang mampu membina kelompok masyarakat untuk menghasilkan nilai ekonomi, terutama dalam melestarikan budaya tenun Ulos. Upaya seperti ini perlu dipikirkan bagaimana ke depannya supaya mendapat bantuan, baik itu dari investor maupun pemerintah atasan,” begitulah ucapan para tamu Pemkab Taput saat memasuki kantor Dekranasda di Tarutung, Tapanuli Utara.
Pembangunan Fisik dan Infrastruktur
Tak hanya UKM dan UMKM yang dikembangkan, setelah delapan tahun kepemimpinan Drs Nikson Nababan MSi sebagai Bupati di Kabupaten Tapanuli Utara, pada umumnya masyarakat Tapanuli Utara mengucapkan terimakasih kepada Nikson Nababan dan keluarga atas perhatiannya terhadap pembangunan fisik dan infrastruktur di desa/dusun.
Setelah delapan tahun kepemimpinan Nikson Nababan di Kabupaten Tapanuli Utara dengan bekerja keras, berjuang, bertekad dan segala kapasitas, daya, energi, dan potensi yang ada dikerahkan untuk meneruskan estafet, berjuang untuk membangun Kabupaten Tapanuli Utara. Selain itu, kader PDI Perjuangan tersebut juga berusaha menciptakan terobosan dan inovasi dan selalu berkarya baik.
Tahun 2022 di Kabupaten Tapanuli Utara untuk Anggaran Dana Desa (ADD) sebesar Rp 64.650.331.500 di 241 desa di Kabupaten Tapanuli Utara dalam pelaksanaan pemerintahan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat. Awal tahun 2022, dengan alat-alat berat dilaksanakan untuk pembukaan jalan/ pelebaran jalan dengan panjang 52 Km, normalisasi sungai/ saluran 6,35 Km, penanganan bencana alam di 32 lokasi dan pematangan lahan pertanian dan lapangan olahraga di 5 (lima) lokasi. Jadi, salah satu prioritas Bupati Tapanuli Utara adalah infrastruktur jalan dan jembatan.
Selain itu, Nikson Nababan memprogram sekolah gratis dan memberikan insentif kepada guru yang berada di desa yang sangat terpencil, pemberian beasiswa bagi siswa-siswi yang berprestasi dan yang kurang mampu.
Selain itu, pembangunan sekolah baru SMP dan SMAN, pengadaan angkutan sekolah di desa terpencil dan pemberian beasiswa. Sedangkan di Bidang Kesehatan, Bupati Tapanuli Utara sangat memberikan perhatiannya dengan membangun ruangan isolasi dan alat-alat kesehatan di dalam ruangan.
Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara juga menempatkan sektor Pendidikan dan Kesehatan sebagai salah satu pilar utama dalam arah kebijakan pembangunan daerah ini, karena pembangunan kesehatan adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat yang harus bersinergi membangun kekuatan bersama untuk meningkatkan pencapaian kesehatan masyarakat.
Sedangkan upaya peningkatan kesehatan masyarakat telah dilakukan berbagai program dan kegiatan yaitu, revitalisasi pelayanan kesehatan dasar dengan pengobatan gratis di desa terpencil maupun sangat terpencil, juga pemberian insentif bagi kader dan tenaga kesehatan serta pemberian uang lembur bagi petugas Puskesmas buka 24 jam, Jaminan Kesehatan Daerah yang disebut Jamkesda yang diprogramkan melalui APBD Taput.
Selain itu, meningkatkan ketersediaan bangunan sarana pelayanan kesehatan berupa Poskesdes serta didukung dengan ketersediaan alat kesehatan yang memadai baik di Puskesmas, Pustu, Poskesdes Posyandu berupa Posyandu Set. Pengadaan Ambulance dan Puskesmas Keliling, jadi sepatutnyalah kita mengucapkan termakasih karena mendapat penghargaan Sertrifikat Eliminasi Malariadi Pedenglang Provinsi Banten dan Penghargaan Inovatif tingkat Provinsi Sumatera Utara.
Untuk meningkatkan kondisi sosial ekonomi masyarakat, khususnya yang berada di Pemerintah Tapanuli Utara telah memberikan bantuan kepada anak-anak sekolah seperti sepatu sekolah, tas sekolah, pemberian bantuan kursi roda dan masih banyak lagi. Dalam peningkatan sarana dan prasarana jalan, pemerintah telah membangun dengan alat-alat berat dan gotong royong serta normalisasi saluran irigasi/ sungai. Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara kembali mendapat Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK-RI terhadap Laporan Keuangan Pemerintah Daerah.
Salah satu visi Bupati Nikson Nababan yaitu menempatkan Tapanuli Utara sebagai lumbung pangan dan telah meningkatkan hasil produksi pertanian dengan pemberian benih dan bibit unggul, pemberian alat-alat pertanian, pengolahan lahan gratis dan pelatihan – pelatihan di bidang pertanian serta pemberian benih ikan.
Selain itu, pelebaran jalan/pembukaan jalan sepanjang 776, 09 Km, normalisasi sungai/saluran 62, 20 Km, penanganan bencana alam 176 lokasi dan pematangan lahan pertanian dan lapangan olahraga 30 lokasi di Kecamatan, Tapanuli Utara.
Sedangkan program kota yang terlaksana di Tapanuli Utara Tahun 2021 di 3 kecamatan, masing-masing Kecamatan Tarutung, Kecamatan Siborongborong dan Kecamatan Muara. Tahun 2022 di Kota Tarutung dan Pangaribuan.
Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah yang disebut PISEW di 93 desa di Tapanuli Utara telah menerima PISEW tersebut. Juga pemasangan turbin telah terbangun Energize Jaringan Listrik di 57 desa. Pembangunan Jaringan Listrik di 29 Dusun dan 26 desa di 10 Kecamatan di Tapanuli Utara. Untuk penerangan jalan di pedesaan telah dibangun lampu penerangan jalan umum dan penerangan lampu kota sebanyak 4.583 unit, sehingga masyarakat telah menikmati listrik atau bisa dikatakan merdeka dari kegelapan.
Dalam meningkatkan parawisata di Tapanuli Utara yang salah satu Visi Bupati Tapanuli Utara dalam perkembangan Bandara Silangit Internasional, yang tadinya mati suri sehingga menjadi Internasional, kemudian menjadi pintu gerbang keluar-masuk Tapanuli sekaligus pintu gerbang parawisata Danau Toba.
Untuk peningkatan kapasitas media dan profesionalisme wartawan yang dalam kegiatan jurnalisme dituntut senantiasa meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kualitas hasil kerjanya. Dewan pers telah menyusun jenjang sertifikasi wartawan yang bermanfaat untuk meningkatkan kapasitas media dan kualitas jurnalisme wartawan. Seluruh wartawan diharapkan dapat menjalani proses sertifikasi wartawan dengan berjenjang.
Manfaat yang diperoleh, kualitas wartawan makin menjamin terhadap kredibilitas, kapasitas media, pendekatan penelitian secara kualitatif dengan metode Studi Kasus, pengumpulan data dengan wawancara, observasi dan sumber dokumentasi. Kesimpulannya, proses dominan masih belum ada komitmen pengelolaan media untuk mewajibkan wartawan menempuh uji sertifikasi wartawan.
Melalui lomba Karya Tulis Jurnalis Tapanuli Utara Tahun 2022 di Lingkungan Pemerintahan Kabupaten Tapanuli Utara melalui Dinas Komunikasi dan Informatika Tapanuli Utara Hendrik Taruna SSTP MSi dengan Tema: “Sewindu Drs Nikson Nababan MSi memimpin Kabupaten Tapanuli Utara” dan Sub Tema: “Meningkatkan Profesionalisme Jurnalis Serta Kemitraan untuk Mendukung Pembangunan Kabupaten Tapanuli Utara”. Dengan ini jurnalis akan menjadi mitra pemerintah dan turut memberikan andilnya melalui pemberitaan-pemberitaan mengenai peningkatan pembangunan di Tapanuli Utara.
Pers dan masyarakat dapat ikut berpartisipasi, karena hanya dengan prestasi harapan itu bisa dicapai, hanya prestasi kita bisa. Melalui prestasi kita akan meraih kemakmuran dan kejayaannya serta mengejar ketertinggalan. Hanya melalui prestasi, masyarakat Kabupaten Tapanuli Utara akan bisa membangun jiwa dan raganya untuk pemajuan Kabupaten yang kita cintai ini, agar kita bersama-sama dapat meraih kemajuan dan kesejahteraan. Untuk hidup sejahtera, perlu kerja keras dan butuh pengorbanan.
Mengakhiri tulisan ini, penulis mengajak semua kalangan terutama Pemkab Tapanuli Utara untuk terus melestarikan Ulos hingga mendunia dan berharap Pemkab Taput dan jajarannya untuk terus menorehkan prestasi demi bangsa dan anak cucu penerus estafet pembangunan di Tapanuli Utara.
“Jangan tanya apa yang telah Tapanuli Utara berikan ke padamu, tetapi tanyakanlah apa yang telah kamu perbuat kepada Tapanuli Utara!”
Kesimpulan
Bahwa Ulos semakin mendunia ke berbagai negara, apalagi hasil dari tenunan Tarutung terlebih lagi dari Kecamatan Muara khususnya Harungguan. Ulos sangat penting dan punya arti tersendiri di kehidupan kita orang Batak khususnya.
Saran
Ke depannya Ulos juga mohon semakin diperhatikan, baik dalam mengolah bahan dan motifnya. Selain itu para penenun Ulos diberikan sosialisasi, sehingga semakin meningkat mutu dan kualitas Ulos untuk menjadi Tapanuli Utara sebagai kiblat kreativitas tenunan kain Ulos yang pada muaranya akan otomatis meningkatkan taraf hidup seluruh pelaku ekonomi yang terlibat dalam pengerjaannya mulai dari perajin benang, petenun ulos hingga ke pedagang Ulos.
Horas… Horas…, Horas…! (**)
(Tulisan ini diikutkan dalam lomba karya tulis 8 Tahun kepemimpinan Drs Nikson Nababan sebagai Bupati Tapanuli Utara)