• Redaksi
  • Hubungi Kami
Kamis, 30 April 2026
perjuanganonline.com
  • Home
  • Nasional
  • Politik
  • Kota
  • Hukum&Kriminal
  • Daerah
  • Internasional
  • Kasak-kusuk
  • Olahraga
  • Otomatif
  • Ragam
    • Advertorial
  • Video
  • Foto
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Politik
  • Kota
  • Hukum&Kriminal
  • Daerah
  • Internasional
  • Kasak-kusuk
  • Olahraga
  • Otomatif
  • Ragam
    • Advertorial
  • Video
  • Foto
No Result
View All Result
perjuanganonline.com
No Result
View All Result
Home Ekonomi

Israel-Iran Memanas, Harga BBM di Indonesia Bisa Naik

Editor: Suganda
Rabu, 18 Juni 2025
Kanal: Ekonomi

Editor:Suganda

Rabu, 18 Juni 2025
Share on FacebookShare on TwitterWhatsappTelegram

Jakarta, POL | Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia berpotensi mengalami kenaikan jika konflik antara Israel dan Iran terus memanas. Ketegangan antara dua negara di kawasan Timur Tengah itu menimbulkan ketidakpastian di pasar minyak mentah global.

Sejumlah pihak memperkirakan harga BBM dalam negeri, khususnya jenis non-subsidi, bisa naik pada bulan depan jika eskalasi konflik meluas ke negara-negara sekutu kedua pihak.

Pengamat Energi dari Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, mengatakan BBM non-subsidi seperti Pertamax kemungkinan besar akan menjadi jenis pertama yang mengalami penyesuaian harga. Hal ini karena harga BBM non-subsidi mengikuti mekanisme pasar dan sangat bergantung pada harga minyak dunia.

“Untuk BBM non-subsidi seperti Pertamax, selama ini memang mengikuti mekanisme pasar. Jadi, ketika harga minyak mentah dunia naik, harganya juga pasti ikut naik,” ujar Fahmy, Selasa (17/6/2025).

Untuk BBM subsidi seperti Pertalite, Fahmy menyarankan agar pemerintah tidak terburu-buru menaikkan harga. Ia menilai, kenaikan harga BBM subsidi bisa memicu inflasi dan menekan daya beli masyarakat.

“Selama harga minyak mentah dunia masih di bawah US$ 100 per barel, menurut saya, pemerintah sebaiknya tetap mempertahankan harga BBM subsidi. Tapi kalau sudah di atas US$ 100, maka tidak ada pilihan lain selain menaikkan harga agar APBN tidak terbebani,” katanya.

Peneliti Ekonomi dari Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, menambahkan harga minyak saat ini masih berada di kisaran US$ 73–75 per barel. Jumlah ini masih di bawah asumsi makro APBN 2025 yang ditetapkan sebesar US$ 82 per barel.

“Selama harga minyak mentah belum melewati US$ 82 per barel, saya kira pemerintah belum perlu menaikkan harga BBM subsidi. Tapi jika sudah melampaui angka tersebut, meskipun belum sampai US$ 100, maka penyesuaian harga bisa dipertimbangkan,” ujarnya. (MET)

Berikan Komentar:
Print Friendly, PDF & Email
Berita sebelumnya

Pembunuh Siswi SMP di Sergai Dituntut Hukuman Mati

Berita selanjutnya

Cuaca Hari Ini: Awas Hujan-Petir!

TERBARU

Rp158 Miliar Digelontorkan, Jalan Aek Nabara–Negeri Lama–Tj Sarang Mulai Diperbaiki Tahun Ini

Kamis, 30 April 2026

Rico Waas Bawa Pesan Kedamaian di Tengah Ribuan Jemaat Paskah Oikumene

Kamis, 30 April 2026

Dari PSEL hingga BRT, Rico Waas Optimis Dukungan Prananda Surya Paloh Di Pusat Dapat Percepat Proyek Strategis Nasional

Kamis, 30 April 2026
perjuanganonline.com

  • Hubungi Kami
  • Redaksi
  • Sitemap
  • Pedoman Cyber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Tentang Kami

© Copyright 2020 PERJUANGANONLINE.COM - Mengedepankan Amanah Rakyat All Right Reserverd

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Politik
  • Kota
  • Hukum&Kriminal
  • Daerah
  • Internasional
  • Kasak-kusuk
  • Olahraga
  • Otomatif
  • Ragam
    • Advertorial
  • Video
  • Foto

© Copyright 2020 PERJUANGANONLINE.COM - Mengedepankan Amanah Rakyat All Right Reserverd