Medan, POL | Anggota DPRD Sumut M Subandi meminta pemerintah tegas dan berani mengambil sikap terkait rencana pembelajaran tatap muka (PTM) awal semester ini. Jika batal, diusulkan perkuat belajar daring sampai ada kepastian pandemi Covid-19 dapat dikendalikan.
Hal itu disampaikan M Subandi di Medan, Rabu (23/6/2021), merespon wacana yang digulirkan sejumlah kalangan, termasuk Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) yang mengusulkan penghentian PTM di seluruh Indonesia.
Subandi mengatakan, hampir dua tahun sudah virus corona mewabah di negri ini yang amat bredampak terhadap nasib penididikan dan perekonomian anak bangsa. “Ini yang perlu serius kita menghadapinya,” kata politisi Partai Gerindra tersebut.
Menanggapi permintaan FSGI agar wacana PTM ditunda karena tingkat positivity rate-nya jauh di atas angka normal 5% dan kehadiran varian baru Covid-19 tingkat penyebarannya lebih cepat, Subandi menegaskan, harusnya pemerintah tegas dan berani mengambil sikap, yakni tetap memberlakukan PTM dengan pengawasan yang ketat.
“Nah, kalau direncanakan buka, kemudian nanti diwanti-wanti tutup lagi, kita semua jadi bingung, seperti apa jadinya nanti anak-anak didik kita yang tidak sekolah selama hampir dua tahun,” katanya.
Menurutnya, anak-anak didik yang belajar daring dikhawatirkan tidak serius, karena tidak mendapatkan pengawasan maksimal seperti halnya di sekolah. Bahkan berpotensi terjangkit virus, kalau mereka dibiarkan bermain tanpa kontrol orangtua.
“Kalau belajar di sekolah, mereka bisa lebih disiplin karena harus mematuhi protokol kesehatan, seperti mencuci tangan, pakai masker dan menjaga jarak,” katanya.
Untuk mencegah penularan, Subandi mengusulkan perlunya penguatan imun bagi tubuh yaitu dengan cara menjaga pola makanan seperti makan sayur- sayuran dan istirahat yang teratur.
Subandi jelaskan imun tubuh ini merupakan salah satu faktor penyebab mudahnya kita ditulari penyakit. “Makanya demi menjaga kesehatan diri kita sebaiknya kalau tubuh kita terasa kurang enak atau yang lebih topnya lagi kurang kenak badan, lebih baik istirahat agar tak ngampang ditulari oleh virus tersebut,” ujarnya.
Kata dia, jika kembali diterapkan tatap muka dalam belajar nanti, siswa sebaiknya diberi asupan suplemen yang baik seperti makanan bergizi dan vitamin untuk menjaga kebugaran.
“Kalau semuanya sudah terpenuhi, selain mematuhi prokes, dan program vaksinasi untuk guru sudah berjalan baik, saya kira gak ada salahnya kita gelar belajar tatap muka dengan prokes yang ketat, ketimbang membiarkan kondisi ini tanpa kepastian,” sebutnya.
Pada kesempatan itu, Subandi juga merespon keluhan pedagang kecil, terutama pedagang makanan di malam hari yang dibatasi jam operasionalnya hingga pukul 22.00 WIB. Padahal biasanya mereka mulai jam 5 sore sampai sekitar jam 1 malam baru bubar. “Jangankan untung, balik modal saja tidak,” katanya menirukan keluhan pedagang.
Menanggapi hal itu, Subandi menyarankan agar kebijakan tersebut diubah yang seharusnya jam 10 malam tutup menjadi jam 12 malam, dengan syarat tetap menjaga protokol kesehatan (prokes) yang telah ditetapkan.
“Hal itu agar dapat membantu perekonomian mereka, tapi bukan berarti kita tak peduli dengan kesehatan,” ujar Subandi yang juga Ketua Pedagang Mikro Kecil Menengah (PMKM) Sumatera Utara. (POL/LUKMAN)







